Pendidikan Religius dan Intelektual Jadi Fokus UMY, Orang Tua Diminta Terlibat Aktif
Yogyakarta - Pendidikan tinggi di era saat ini tidak lagi cukup jika hanya menitikberatkan pada aspek akademik. Dalam menghadapi tantangan moral dan sosial yang semakin kompleks, nilai religius dan intelektual menjadi dua pilar penting yang harus berjalan beriringan. Pendidikan yang mengintegrasikan keduanya diyakini mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan, tetapi juga memiliki karakter islami yang kokoh. Namun, proses pembentukan ini tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada civitas academica, melainkan juga membutuhkan keterlibatan aktif dari orang tua maupun wali mahasiswa.
Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), H. Arba Riksawan Qomaru, S.E., dalam acara Silaturahmi Orang Tua/Wali Mahasiswa Baru UMY Tahun Akademik 2025/2026 yang digelar di Sportorium UMY pada Sabtu (20/9).
“Jargon UMY adalah unggul dan islami. Artinya, universitas ini bukan hanya tempat mencetak generasi intelektual muda, tetapi juga membentuk insan yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT,” ungkap Qomaru.
Menurutnya, pendidikan berbasis religiusitas merupakan kebijakan fundamental kampus untuk menyeimbangkan capaian intelektual dengan pembentukan akhlak mulia. Orientasi pendidikan di UMY bukan hanya mengutamakan prestasi akademik, tetapi juga mendidik mahasiswa agar tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter islami.
“Sebagai dasar utama pendidikan, kami meletakkan nilai ketakwaan kepada Allah SWT. Maka setiap aktivitas di kampus ini tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pada proses pembentukan diri agar mahasiswa berakhlak mulia,” tambahnya.
Qomaru menegaskan bahwa kolaborasi antara kampus dan orang tua/wali sangat penting dalam mendukung pembentukan karakter mahasiswa. Peran orang tua bukan sekadar memberikan dukungan dari jauh, tetapi juga mendampingi, mengawasi, dan memastikan anak-anaknya konsisten dalam belajar serta menjaga akhlak sehari-hari.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi antara civitas academica dan orang tua/wali sangat dibutuhkan. Bapak/Ibu perlu ikut mendampingi, mengawasi, dan memastikan putra-putrinya tetap konsisten dalam belajar serta membangun akhlak,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan harapannya agar mahasiswa baru dapat menjalani perkuliahan dengan disiplin sehingga mampu menyelesaikan studi tepat waktu. Menurutnya, target tiga setengah tahun bisa tercapai apabila kampus dan orang tua/wali berjalan beriringan dalam mendampingi mahasiswa.
“Mari kita berikhtiar, baik secara fisik maupun spiritual. Dengan doa yang terus dipanjatkan, kita memohon kepada Allah SWT agar seluruh proses pendidikan ini diberikan kelancaran,” tutupnya. (NF)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow