Isu Pupuk Anorganik, Pakar UMY: Aman Selama Tidak Berlebihan

Isu Pupuk Anorganik, Pakar UMY: Aman Selama Tidak Berlebihan

Smallest Font
Largest Font

YOGYA - Penggunaan pupuk anorganik masih menjadi bagian penting dalam sistem pertanian nasional, khususnya untuk menjaga produktivitas tanaman pangan seperti padi. Guru Besar Ilmu Tanah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM., ASEAN Eng., menegaskan bahwa pupuk anorganik tidak serta-merta membahayakan lingkungan maupun kesehatan manusia selama digunakan sesuai dosis dan kaidah teknis yang benar, serta diimbangi dengan penggunaan pupuk organik.

Menurut Gunawan, pupuk pada dasarnya berfungsi untuk menutup kekurangan unsur hara yang dibutuhkan tanaman agar dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal. Dalam konteks tersebut, pupuk anorganik seperti urea masih sulit ditinggalkan karena memiliki kandungan unsur hara yang tinggi dan dapat langsung diserap oleh tanaman.

“Pupuk itu sifatnya menambah kekurangan unsur hara bagi pertumbuhan tanaman. Selama digunakan dalam batas yang wajar, tidak ada masalah. Kita sudah puluhan tahun menggunakan pupuk anorganik seperti urea, ZA, dan SP, dan masyarakat Indonesia mengonsumsi beras dari tanaman yang dibudidayakan dengan pupuk tersebut,” ujar Gunawan kepada Humas UMY di Kampus UMY, Rabu (21/1).

Ia menjelaskan bahwa pupuk urea memiliki kandungan nitrogen hingga 46 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan pupuk organik. Nitrogen merupakan unsur utama pembentuk sel tanaman yang sangat menentukan pertumbuhan dan hasil panen, terutama pada tanaman pangan seperti padi.

“Nitrogen adalah unsur pembangun sel tubuh tanaman. Nitrogen akan diubah menjadi asam amino, lalu menjadi protein. Karena itu, pupuk urea reaksinya cepat dan bisa segera dimanfaatkan oleh tanaman. Sementara pupuk organik, kandungan nitrogennya paling tinggi hanya sekitar lima persen dan pelepasannya tidak berlangsung secara langsung,” jelasnya.

Lebih lanjut, Gunawan menilai bahwa upaya menggantikan pupuk anorganik sepenuhnya dengan pupuk organik bukanlah hal yang mudah. Selain karena keterbatasan kandungan unsur hara, kebutuhan pupuk organik dalam jumlah besar juga menjadi kendala di tingkat petani.

“Kalau pupuk anorganik digantikan sepenuhnya dengan pupuk organik, kebutuhannya bisa mencapai puluhan ton per hektare, bahkan hingga 20 ton. Pertanyaannya, dari mana pupuk organik sebanyak itu diperoleh? Jika mengandalkan pupuk kandang, tentu dibutuhkan ribuan ternak,” katanya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa penggunaan pupuk anorganik tidak boleh dilakukan secara berlebihan. Dampak negatif justru muncul ketika pupuk diaplikasikan tanpa perhitungan dosis yang tepat, sama seperti obat yang dikonsumsi secara berlebihan.

“Semua itu kalau berlebihan pasti tidak baik. Pupuk itu seperti obat, jika digunakan sesuai dosis maka aman, tetapi jika overdosis justru merugikan. Bahkan bahan organik pun bisa menimbulkan masalah apabila tidak dikelola dengan baik,” tambahnya.

Karena itu, Prof. Gunawan menekankan pentingnya konsep perimbangan antara pupuk anorganik dan pupuk organik dalam sistem pertanian berkelanjutan. Pupuk anorganik berperan menyediakan unsur hara secara cepat, sementara pupuk organik berfungsi sebagai penyangga yang menjaga kesehatan tanah dalam jangka panjang.

“Konsep perimbangan ini penting. Pupuk anorganik menyediakan unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K), sedangkan pupuk organik berfungsi sebagai buffer yang memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Dengan pendekatan ini, produktivitas dapat tercapai tanpa merusak lingkungan,” tutup Gunawan. (NF)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow