Inovasi Tanpa Etika Jadi Ancaman Kemanusiaan, PII DIY: Insinyur Harus Junjung Nilai Moral
YOGYA - Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, Ir. Tri Budi Utama, M.T., IPU., ASEAN Eng., mengingatkan bahwa inovasi teknologi tanpa disertai etika dan tanggung jawab sosial dapat menjadi ancaman serius bagi kemanusiaan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Sumpah Profesi Insinyur Periode II Tahun Akademik 2024/2025, yang diselenggarakan oleh Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (25/10), di Gedung KH. Ibrahim E6 Lantai 5 Kampus Terpadu UMY.
Di hadapan 74 insinyur baru, Tri menegaskan bahwa profesi insinyur tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menciptakan solusi teknis, tetapi juga dengan tanggung jawab untuk menjaga keselamatan, kesejahteraan, dan keadilan masyarakat.
“Insinyur bukan sekadar gelar prestise, melainkan amanah. Inovasi tanpa etika sangat berbahaya. Kita sering menyaksikan kecelakaan kerja, pencemaran, dan krisis lingkungan yang muncul bukan karena kurangnya keahlian teknis, tetapi karena diabaikannya nilai-nilai moral,” tegas Tri.
Menurutnya, banyak persoalan lingkungan dan kecelakaan industri terjadi bukan karena lemahnya kompetensi profesional, tetapi karena diabaikannya prinsip etika dalam perencanaan dan implementasi teknologi.
Tri menambahkan, dunia keinsinyuran saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, ketahanan energi, urbanisasi, hingga risiko bencana. Dalam konteks ini, insinyur dituntut untuk menjadi penjaga nilai-nilai kemanusiaan, memastikan setiap inovasi berpihak pada keselamatan publik dan keberlanjutan bumi.
“Insinyur tidak hanya membangun fisik, tetapi juga memajukan martabat bangsa. Kita tidak cukup hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi harus mampu menghadirkan solusi yang kontekstual, adil, dan manusiawi,” ujarnya.
Tri juga menyoroti fenomena global seperti disrupsi digital, kecerdasan buatan, dan otomasi industri yang mengubah cara kerja manusia. Kemajuan teknologi tersebut, katanya, membawa potensi besar sekaligus risiko baru apabila tidak dikendalikan dengan nilai etika dan kemanusiaan.
Ia menekankan pentingnya menegakkan Kode Etik Insinyur Indonesia (KEII) sebagai pedoman moral dalam praktik profesional. Prinsip keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat, menurutnya, harus menjadi prioritas di atas kepentingan industri, proyek, atau keuntungan ekonomi.
“Etika profesi bukan sekadar aturan administratif, tetapi cerminan akhlak Islami. Menjaga keselamatan manusia adalah bentuk ibadah. Dunia tidak hanya membutuhkan kecerdasan teknis, tetapi juga kebijaksanaan moral agar teknologi tetap berpihak pada manusia,” imbuh Tri.
Tri menyebut, prinsip tersebut telah sejalan dengan standar global seperti FIDIC (International Federation of Consulting Engineers) dan IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers), yang menempatkan tanggung jawab sosial sebagai fondasi keinsinyuran modern.
Acara sumpah profesi ini menjadi momentum penting bagi para lulusan untuk meneguhkan komitmen etis dalam menjalankan profesi. Tri juga mengapresiasi kolaborasi UMY dan PII DIY yang terus bersinergi dalam mencetak insinyur profesional berintegritas dan berakhlak.
“Kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi profesi seperti ini harus menjadi fondasi dalam mencetak generasi insinyur yang unggul dalam ilmu, teguh dalam iman, dan berkomitmen pada kemaslahatan masyarakat,” pungkasnya. (ID)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow