Etika dan Pengawasan Manusia sebagai Faktor Kunci Keberhasilan PR di Era Kecerdasan Buatan (AI)
YOGYA - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini semakin tak terhindarkan dan telah diadopsi oleh lebih dari setengah perusahaan di dunia. Teknologi ini digunakan untuk mempercepat proses komunikasi, menganalisis audiens, dan meningkatkan interaksi dengan para pemangku kepentingan. Meskipun AI menawarkan berbagai kemudahan, praktisi komunikasi tetap harus menjaga nilai etika dan aspek kemanusiaan dalam setiap tindakannya.
Pandangan ini disampaikan oleh Prof. Adhianty Nurjanah, Guru Besar Ilmu Komunikasi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dalam kuliah umum bertema “Public Relations 5.0: Otomatisasi, Etika, dan Reputasi,” yang diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi UMY pada Senin (10/11).
Prof. Adhianty menegaskan bahwa meskipun AI membawa dampak signifikan dalam dunia komunikasi dan kehumasan, tantangan utama bagi praktisi komunikasi adalah menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan etika di tengah otomatisasi yang semakin berkembang.
"AI hanyalah alat bantu. Kita harus tetap mempertahankan kemanusiaan, empati, dan moral dalam penggunaannya. Praktisi PR bukan robot," jelasnya.
Menurutnya, komunikasi bukan sekadar proses otomatis dalam penyampaian pesan, melainkan sebuah proses yang penuh makna, tanggung jawab, dan kesadaran moral terhadap dampaknya bagi sesama. Oleh karena itu, penggunaan AI dalam PR harus selalu melibatkan pengawasan manusia (human oversight), yang memastikan bahwa setiap pesan dan konten yang disampaikan berdasarkan pada kebenaran, transparansi, dan penghormatan terhadap privasi publik.
“Mesin tidak memiliki empati seperti manusia. Karena itu, kita harus mengendalikan teknologi, bukan dikendalikan olehnya,” tambahnya.
Prof. Adhianty juga menekankan pentingnya tanggung jawab moral di era digital ini. Ia mengingatkan bahwa reputasi seseorang kini tidak hanya ditentukan oleh prestasi profesional atau akademik, tetapi juga oleh jejak digital yang mereka tinggalkan di media sosial. Oleh karena itu, mahasiswa dan calon praktisi PR harus memperkuat literasi digital serta menanamkan karakter profesional yang beretika.
"Keberhasilan seorang praktisi PR di masa depan tidak bergantung pada kecanggihan teknologi yang digunakan, melainkan pada seberapa manusiawi komunikasi yang dibangun," tutupnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow