Lonjakan Harga Pangan Jelang Ramadan, Dosen Agribisnis UMY Soroti Guncangan Permintaan Musiman
YOGYAKARTA — Kenaikan harga pangan menjelang Ramadan dan Idulfitri kembali menjadi isu tahunan yang memengaruhi daya beli masyarakat. Sejumlah komoditas strategis, seperti cabai, bawang merah, telur, daging ayam, minyak goreng, dan gula pasir, hampir selalu mengalami lonjakan harga seiring meningkatnya konsumsi masyarakat.
Dosen Agribisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dinda Aslam Nurul Hida, menjelaskan bahwa perubahan pola konsumsi selama Ramadan turut memberikan tekanan besar terhadap pasar pangan. Aktivitas memasak yang meningkat, frekuensi belanja rumah tangga yang lebih tinggi, serta kebutuhan pangan yang semakin beragam menyebabkan permintaan melonjak dalam waktu singkat.
“Fenomena ini dikenal sebagai seasonal demand shock, yakni guncangan permintaan musiman yang sebenarnya dapat diprediksi, tetapi tetap memberikan tekanan besar pada pasar pangan. Meski berulang setiap tahun, lonjakan permintaan ini masih sering memicu persoalan pasokan,” ujar Dinda saat diwawancarai di UMY, Selasa (10/2).
Menurutnya, persoalan utama terletak pada ketidaksiapan sektor pasokan dalam merespons lonjakan permintaan tersebut. Sejumlah komoditas pangan, seperti cabai, bawang merah, telur, dan daging ayam, memerlukan waktu dalam proses produksi, sementara sistem distribusi masih menghadapi berbagai tantangan logistik.
“Ketika permintaan meningkat jauh lebih cepat dibandingkan pasokan, harga menjadi mekanisme penyesuaian paling cepat di pasar,” jelasnya.
Kondisi tersebut, lanjut Dinda, semakin terasa di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang masih bergantung pada pasokan pangan dari daerah lain. Meskipun pemerintah daerah telah berupaya menjaga ketersediaan stok menjelang Ramadan, stabilitas harga pangan tetap menjadi tantangan.
“Bagi kelompok masyarakat rentan, kenaikan harga pangan sangat berdampak. Dalam perspektif ekonomi kesejahteraan, inflasi pangan memiliki dampak yang jauh lebih besar dibandingkan inflasi nonpangan. Karena itu, stabilitas harga pangan bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut keadilan sosial,” tegasnya.
Dinda menilai berbagai intervensi pemerintah, seperti operasi pasar dan pasar murah, masih bersifat reaktif dan belum menyentuh akar persoalan secara menyeluruh.
“Ke depan, dibutuhkan pembenahan yang lebih sistemik agar lonjakan harga pangan tidak terus berulang setiap tahun. Pengelolaan produksi, distribusi, dan cadangan pangan harus direncanakan dengan lebih matang, mengingat puncak permintaan selalu terjadi saat Ramadan dan Idul Fitri,” ujarnya.
Ia menambahkan, Ramadan seharusnya diperlakukan sebagai periode puncak permintaan yang dapat diprediksi. Oleh karena itu, penguatan cadangan pangan daerah, efisiensi rantai pasok, integrasi data produksi dan konsumsi, serta edukasi masyarakat mengenai diversifikasi pangan perlu dipersiapkan sejak jauh hari.
“Dengan sistem pangan yang kuat dan terencana, lonjakan harga pangan dapat dikelola dengan lebih baik dan tidak lagi menjadi masalah tahunan,” pungkasnya
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow