Ahli UMY: Mitigasi Banjir Indonesia Harus Berbasis Pencegahan, Bukan Sekadar Respons
YOGYA - Di tengah duka akibat banjir beruntun yang melanda Sumatera, pemerintah dinilai perlu mengubah pendekatan penanganan bencana dari _response-based_ menuju _prevention-based_. Hal tersebut disampaikan oleh pakar teknik sipil dan lingkungan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jazaul Ikhsan, S.T., M.T., Ph.D., IPM. Menurutnya, mitigasi banjir tidak lagi bisa bergantung pada penyaluran logistik, evakuasi, atau pembangunan tanggul sementara.
“Kita membutuhkan perencanaan tata ruang berbasis risiko bencana, manajemen Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berkelanjutan, serta penyelarasan kebijakan pembangunan dengan mitigasi lingkungan,” tegasnya saat diwawancarai secara daring pada Selasa (2/12).
Ikhsan menjelaskan bahwa strategi mitigasi harus dijalankan dalam dua fase, yakni jangka pendek dan jangka panjang. Pada jangka pendek, pemerintah perlu memperbesar kapasitas drainase, membangun kolam retensi, membersihkan sedimentasi sungai, serta mengimplementasikan sistem peringatan dini berbasis sensor.
Sementara untuk jangka panjang, mitigasi harus mencakup restorasi ekosistem, pembangunan infrastruktur hijau, reboisasi kawasan rawan banjir, serta pemodelan komputer untuk memproyeksikan risiko banjir di masa depan. “Mengandalkan desain berdasarkan data masa lalu tidak lagi relevan. Perubahan iklim sudah mengubah pola hujan dan debit air,” ujarnya.
Ikhsan menegaskan bahwa pengelolaan DAS dan zonasi ruang berbasis peta risiko harus menjadi instrumen hukum yang mengikat. Ia juga menyoroti pentingnya pembatasan pembangunan di zona merah serta keberanian pemerintah dalam menegakkan aturan tata ruang. Menurutnya, tanpa kepatuhan terhadap regulasi, upaya mitigasi tidak akan berjalan optimal.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan mitigasi banjir sangat bergantung pada edukasi publik dan peran aktif masyarakat. Pelatihan kesiapsiagaan, literasi lingkungan, serta partisipasi warga dalam menjaga drainase dan ruang hijau menjadi elemen penting untuk mengurangi risiko bencana secara berkelanjutan.
“Jika strategi mitigasi tidak dijalankan secara komprehensif, banjir bukan hanya menjadi bencana musiman, melainkan pola kehidupan baru di berbagai wilayah Indonesia,” tutup Ikhsan dengan peringatan tegas. (Jeed)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow