Workshop Ecoprint Warnai Mataf Prodi Ekonomi UMY, Mahasiswa Baru Belajar Bisnis Ramah Lingkungan

Workshop Ecoprint Warnai Mataf Prodi Ekonomi UMY, Mahasiswa Baru Belajar Bisnis Ramah Lingkungan

Smallest Font
Largest Font

Yogyakarta - Dalam rangkaian kegiatan Masa Ta’aruf (Mataf) Program Studi Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), mahasiswa baru tidak hanya dikenalkan pada lingkungan akademik dan organisasi, tetapi juga diberi wawasan lebih luas melalui workshop ecoprint. Kegiatan ini menjadi langkah kreatif untuk menanamkan kesadaran sejak dini bahwa dunia ekonomi memiliki keterkaitan erat dengan isu lingkungan, sosial, serta pembangunan berkelanjutan sebagaimana tercantum dalam Sustainable Development Goals (SDGs).

Ecoprint, salah satu teknik pewarnaan kain dengan memanfaatkan dedaunan, tidak hanya menghasilkan karya seni bernilai estetika, tetapi juga mengandung filosofi keberlanjutan. Prinsipnya adalah bagaimana sumber daya alam dapat dimanfaatkan secara bijak tanpa mencemari lingkungan. Hal ini disampaikan oleh Esty Setyaningrum, SE., M.Si., dosen Prodi Ekonomi UMY, pada Kamis (25/9).

“Proses pewarnaan alami ini menggantikan zat kimia berbahaya yang umumnya digunakan dalam industri tekstil. Dengan bahan alami, ecoprint mendorong pola produksi yang lebih ramah lingkungan dan mendukung gaya hidup hijau,” jelas Esty.

Selain ramah lingkungan, ecoprint juga memiliki potensi ekonomi. Hasil ecoprint dapat diolah menjadi produk sederhana seperti tas kanvas atau kain polos, yang nilainya bisa meningkat berkali lipat. Hal ini membuka peluang usaha baru berbasis kreativitas dan keterampilan.

Dalam workshop, mahasiswa baru Ekonomi UMY diperkenalkan pada tahapan ecoprint mulai dari mencuci kain untuk menghilangkan lilin, menata daun, memukul daun agar motif menempel, hingga proses fiksasi menggunakan tawas agar warna tidak mudah luntur.

“Jenis daun yang digunakan pun beragam, mulai dari jati muda, mangga, pepaya, hingga sembung. Masing-masing daun menghasilkan motif dan warna yang unik. Namun bagi pemula, disarankan memilih daun yang tidak banyak mengandung air dan tidak berbulu agar lebih mudah dieksekusi,” tambah Esty.

Salah satu mahasiswa baru Prodi Ekonomi, Nugraheni Rizqi Wardino, mengaku mendapat pengalaman baru dari kegiatan ini. Ia menilai, keterampilan ecoprint dapat diterapkan di lingkungan rumah masing-masing dan bahkan berpotensi membantu meningkatkan perekonomian warga sekitar.

“Saya baru tahu teknik dasar ecoprint, jenis daun yang bisa dipakai, serta bagaimana proses fiksasi membuat warna lebih awet. Harapannya, pelatihan ini bermanfaat bagi mahasiswa maupun masyarakat, bahkan bisa menjadi peluang usaha kreatif,” ungkap Rizqi. (NF)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow