UMY Dorong Pendekatan Humanistik dalam Pengukuran Kinerja Perguruan Tinggi
YOGYAKARTA — Pendekatan humanistik dalam pengukuran kinerja perguruan tinggi dinilai semakin mendesak di tengah dominasi indikator kuantitatif seperti akreditasi dan pemeringkatan. Perspektif ini dianggap penting untuk menyeimbangkan capaian angka dengan kualitas kehidupan sivitas akademika.
Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc. menyampaikan bahwa praktik pengukuran kinerja perguruan tinggi global hingga kini masih sangat bergantung pada indikator kuantitatif. Hal itu ia sampaikan dalam Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar Ietje Nazaruddin, Sabtu (11/4) di UMY.
Menurutnya, akreditasi nasional, pemeringkatan internasional, hingga berbagai ukuran performa institusi masih didominasi oleh angka-angka yang kerap menjadi tolok ukur utama keberhasilan.
“Seluruh universitas di dunia ini tidak bisa menghindari pengukuran secara kuantitatif, terutama akreditasi nasional maupun internasional dan juga pemeringkatan. Semuanya didominasi angka. Namun, Prof. Ietje menambahkan aspek humanistik di dalam pengukuran organisasi universitas. Ini penting karena indikator kinerja tidak hanya soal angka, tetapi juga harus melihat dimensi kemanusiaan, termasuk kebahagiaan dosen dan mahasiswa,” ujar Nurmandi.
Ia menilai, meskipun sebagian pemeringkatan internasional telah memasukkan unsur kualitatif seperti reputasi alumni dan akademisi, proporsinya masih belum cukup kuat untuk mengimbangi dominasi indikator numerik.
Lebih lanjut, Nurmandi menjelaskan bahwa penerapan indikator berbasis capaian selama ini memang terbukti mendorong peningkatan signifikan di berbagai aspek, mulai dari akreditasi, pemeringkatan, hingga produktivitas akademik. Namun, capaian tersebut perlu dilengkapi dengan dimensi yang lebih berorientasi pada manusia.
“Dengan indikator berbasis kinerja, kita merasakan peningkatan luar biasa sejak beberapa tahun terakhir. Tetapi sekarang kita mulai menambah indikator yang lebih humanistik, misalnya indikator kebahagiaan dalam penilaian kinerja dosen dan mahasiswa. Ini menjadi pelengkap agar pengukuran tidak hanya berorientasi angka, tetapi juga kualitas kehidupan akademik,” ungkapnya.
Ia menegaskan, keseimbangan antara performa institusi dan kesejahteraan sivitas akademika menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem pendidikan tinggi yang berkelanjutan. Penambahan indikator humanistik diharapkan mampu melengkapi sistem pengukuran yang selama ini berfokus pada capaian angka, sehingga kualitas kehidupan akademik tetap terjaga seiring peningkatan prestasi institusi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow