Pakar UMY Dorong Yogyakarta Terapkan Green Building dan Energi Terbarukan Secara Terukur
YOGYA - Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di bidang ekonomi hijau, Prof. Dr. Endah Saptutiningsih, M.Si., menilai bahwa masa depan pembangunan berkelanjutan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) perlu diarahkan pada transisi menuju sistem energi bersih dan penerapan bangunan hijau yang terukur. Menurutnya, kedua aspek tersebut menjadi tantangan utama dalam mendorong pembangunan berkelanjutan di Indonesia, termasuk di Yogyakarta.
“DIY memiliki potensi besar untuk menjadi pusat inovasi energi bersih di Indonesia. Namun, penerapan energi terbarukan masih terhambat oleh ketidakpastian regulasi dan keterbatasan pembiayaan,” ujar Endah saat dihubungi tim Humas UMY, Kamis (23/10). Ia menambahkan bahwa Yogyakarta memiliki peluang besar untuk memanfaatkan energi surya dan biomassa secara optimal, terutama di fasilitas publik dan institusi pendidikan.
Endah menegaskan bahwa Yogyakarta membutuhkan arah kebijakan yang lebih progresif dalam mengembangkan sistem energi hijau. Hal itu mencakup penerapan green building code, penyusunan skema pembiayaan hijau, serta model kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan sektor swasta untuk mempercepat transformasi energi bersih.
“Peta jalan energi tidak bisa hanya berfokus pada teknologi. Ia juga harus mencakup desain kelembagaan dan partisipasi publik. Transisi menuju keberlanjutan tidak boleh berhenti pada tataran kebijakan, tetapi harus diwujudkan dalam praktik nyata di berbagai sektor,” jelasnya.
Ketua Program Studi Magister Ekonomi UMY ini juga menyoroti rendahnya penerapan prinsip efisiensi energi di sebagian besar gedung publik di Yogyakarta. Padahal, konsep bangunan hijau (green building) terbukti dapat menekan konsumsi listrik dan memperpanjang usia bangunan.
Endah mencontohkan langkah-langkah konkret yang telah dilakukan UMY dalam inisiasi efisiensi energi dan pembangunan kampus hijau. Sejumlah gedung kampus, termasuk asrama mahasiswa dan laboratorium, kini telah dilengkapi dengan panel surya, sistem pemanas tenaga surya, dan lampu hemat energi.
“Perguruan tinggi dapat menjadi contoh penerapan campus-based energy service company (ESCO), yaitu model pembiayaan mandiri untuk efisiensi energi di lingkungan pendidikan,” ujarnya. Ia menekankan bahwa penerapan energi bersih di kampus tidak hanya bertujuan mengurangi emisi karbon, tetapi juga mendidik mahasiswa agar memahami makna keberlanjutan dalam praktik sehari-hari.
UMY juga tengah mengembangkan berbagai riset multidisiplin di bidang teknologi energi bersih, di antaranya: Plastic waste pyrolysis untuk menghasilkan bahan bakar alternatif, dual-fuel system untuk mesin pertanian, serta penerapan photovoltaic di fasilitas kesehatan. Riset-riset tersebut tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan industri dan masyarakat dalam mendukung transisi energi nasional.
Lebih jauh, Endah menegaskan bahwa keberhasilan transisi energi tidak hanya bergantung pada kebijakan dan teknologi, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat. “Kesadaran terhadap penggunaan energi efisien, gaya hidup rendah karbon, dan pemanfaatan energi terbarukan harus terus ditumbuhkan melalui pendidikan dan partisipasi publik,” pungkasnya. (ID)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow