Kampus

Kampus

MediaMU.COM

May 26, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Masyarakat Harus Lebih Bijak dalam Dunia Maya

BANTUL — Adanya internet of things (IOT) sebagai salah satu akibat dari revolusi industri 4.0. Selain membawa keuntungan, namun juga membawa kerugian tersendiri.

Penyebaran hoax, fake messages, fake news dan hal serupa lainnya, semakin mudah dilakukan dan banyak bertebaran di dunia maya saat ini.

Karena itulah, sudah menjadi sebuah keharusan bagi masyarakat untuk bersikap lebih bijak dalam berinteraksi di dunia maya. Selain itu, dunia maya juga dirasa perlu untuk diregulasi, karena banyaknya hal yang dapat dilakukan oleh manusia di dunia maya.

Hal itu disampaikan Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika Bidang Komunikasi dan Media Massa, Prof. Dr. Henri Subiakto, dalam acara Seminar Nasional Komunikasi 2018 “Revolusi Digital dan Masyarakat Multikultural (Kesenjangan, Tantangan dan Peluang), yang diselenggarakan Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin (27/8/2018) di Gedung KH Ibrahim UMY.

Dalam paparannya, Prof. Henri menyampaikan, negara Indonesia ini sangat besar. “Namun dalam kehidupan masyarakatnya masih terjadi pemisahan antara satu dengan lainnya atau segregasi,” kata Henri.

Bahkan, kondisi itu juga terjadi di dunia maya (media sosial). Masuknya teknologi internet yang bisa mengubah segalanya ini dapat mengakibatkan permasalahan multikultur. “Karena kita dapat bertemu dengan orang yang sangat berbeda dari kita,” tandas Henri.

Dan kita semua berkumpul di media sosial sehingga terjadilah keributan-keributan. Padahal, kita ini membutuhkan persatuan, bukan perpecahan.

Oleh sebab itulah, Prof. Henri mengimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada terhadap penyebaran hoax dan pesan serupa yang bertebaran di media sosial.

Untuk mengatasi masalah tersebut, masyarakat harus bijak dan netral dalam memverifikasi pesan yang datang dari dunia maya dengan melihatnya dari berbagai sudut pandang.

Kalau menerima pesan hoax, masyarakat kita sekarang ini cenderung melakukan koreksi pesan dalam ruang lingkup yang sama. “Seharusnya, bukan hanya di ruang lingkup yang sama. Karena dunia maya itu memiliki algoritma tersendiri yang dapat mengetahui karakteristik kita,” papar Henri.

Jadi, jika kita mengecek suatu pesan hanya di ruang lingkup yang kita suka saja, maka hal itu hanya akan menguatkan pesan yang kita terima. Karena itulah, masyarakat benar-benar perlu untuk diliterasi tentang algoritma dunia maya.

Prof. Henri menyarankan agar ada regulasi tersendiri yang dikhususkan dalam interaksi dunia maya. Hal itu dikarenakan banyaknya hal yang dapat dilakukan oleh manusia di dunia maya.

“Zaman sekarang ini kita melakukan bisnis di dunia maya. Mencari teman di dunia maya, bahkan berantem pun di dunia maya. Sehingga dunia maya ini memang perlu diregulasi,” imbuh Henri. (Affan)

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here