Kampus

Kampus

MediaMU.COM

Jun 21, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Integrasi AIK dalam KBM di SMP Musade

SLEMAN — Tim Pengabdian Dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melaksanakan pertemuan ketiga dengan mitra PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat) di SMP Muhamamdiyah 1 Depok, Sleman, Senin (26/7). Tim ini diketuai oleh Dr. Enung Hasanah, M.Pd. selaku Dosen Program Studi Manajemen Pendidikan UAD

Kegiatan PKM ini sebelumnya diawali dengan pembukaan yang disampaikan oleh Kepala SMP Muhammadiyah 1 Depok Abidin Fuadi Nugroho, M.Si. Beliau menyampaikan bahwa terkait dengan tema yang akan disampaikan, yaitu Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam pembelajaran, tentu saja bukan hanya khusus para guru ISMUBA. “Tetapi sebagai guru di sekolah Muhammadiyah hendaknya juga memahami pembelajaran yang integrasi antara pembelajaran non-ISMUBA dan ISMUBA,” ujar Abidin.

Sementara itu, terdapat pemaparan materi bertemakan “Mengintegrasikan Al-Islam Kemuhammadiyahan dalam Pembelajaran” bersama narasumber dari tim PKM UAD, Dr. Suyatno Pada kesempatan tersebut, ia menuturkan, meskipun tema yang disampaikan mengenai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam pembelajaran, tentang ISMUBA, bukan berarti hanya untuk guru ISMUBA, lebih cocok untuk guru bukan ISMUBA. Karena, ruh pendidikan muhammadiyah adalah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. “Jadi nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan bukan hanya sekedar mata pelajaran yang disampaikan oleh guru ISMUBA, mata pelajaran ISMUBA, tetapi justru menjadi spirit, ruh, menjadi napas pengembangan sekolah,” tuturnya.

Lanjtunya, kurikulum ataupun semua mata pelajaran harusnya juga mengandung aspek-aspek atau nilai-nilai tentang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Namun, bukan berarti bahwa penanaman nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan itu hanya dibebankan kepada guru-guru ISMUBA, ataupun hanya dibebankan pada mata pelajaran ISMUBA. Suyatno menjelaskan, ketika sudah memiliki komitmen atau dedikasi untuk membesarkan sekolah, seharusnya yang menjadi unsur pembentuk dari dedikasi dan komitmen untuk membesarkan sekolah, salah satunya nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.

Menurutnya lagi, ISMUBA berperan lebih besar, meskipun tidak harus dalam bentuk pelajaran-pelajaran formal di kelas. Karena dalam merdeka belajar, karakter sudah difokuskan pada profil pelajar pancasila. Mengutip dari Prof. Tasman bahwa kerangka pendidikan holistik integratif ISMUBA terdiri dari tarbiyah (personal development), ta’dib (character building), ta’lim (knowledge base), dan tilawah (Al-Qur’an and Al-Hadits).

“Yang termasuk profil pelajar Muhammadiyah, atau Pancasila, adalah keseimbangan antara spiritualitas yang tangguh, emosional sosial yang tangguh, fisik dan jasmani juga tangguh, atau kuat imannya, cerdas dan luas wawasan keilmuannya, kuat fisiknya, kuat ekonomi,” paparnya. Ia juga menambahkan, terdapat tiga hal dalam literasi beragama, yakni memahami ilmu, menghayati nilainya, dan mengamalkan.

Suyatno juga menyampaikan prinsip pengembangan kurikulum sekolah muhammadiyah antara lain: internalisasi nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, koreksi kurikulum yang bertentangan dengan aqidah, pemikiran, pendapat dan hukum islam, substitusi kurikulum lama dengan yang baru sama sekali, aidisi kurukulum baru ke dalam kurikulum lama, serta fiksasi atau pembakuan kurikulum yang telah ada.

Dalam pemaparan tersebut, ia mengingatkan jika kebenaran sumber bisa berasal dari mana saja, dari siapa saja, dan temuan manusia itu pasti bersifat tidak mutlak atau relatif, maka perlu dilakukan koreksi (kurikulum, mata pelajaran, konten-konten keilmuan). Apabila hal tersebut bertentangan dengan aqidah, pemikiran, pendapat, rukun islam, sebagai guru berhak untuk mengoreksi. Suyatno menilai tidak mungkin kurikulum merdeka bisa diterapkan kalau guru belum merdeka. Salah satu contoh guru merdeka adalah yang berani mengoreksi kesalahan atau pendapat yang bertentangan seperti yang telah dijelaskan.

Adapun, holistik integratif adalah pembelajaran yang menyatukan semua aspek, seperti: jasmani rohani, akal, dan lain-lain. Pembelajaran di sekolah Muhammadiyah seharusnya adalah pembelajaran yang menggembirakan, menginspirasi dan menghidupkan. Caranya, sebagai pendidik harus merancang modelnya, pendekatan, strategi, metode pembelajaran yang menggembirakan, mengutamakan apresiasi daripada hukuman, menjauhkan anak dari segala ancaman baik fisik maupun psikis. Jika memberikan hukuman atau punishment, maka harus disesuaikan dengan pelanggaran yang dilakukan.

Sebagai penutup Suyatno berpesan, selain melakukan pembiasaan kepada anak, hal penting yang harus dilakukan yaitu melakukan penyadaran. “Penyadaran bisa melalui cara menanamkan hukum sebab-akibat, berikan contoh yang konkrit kepada anak, biarlah anak belajar mengontrol dirinya sendiri,” kata Suyatno.

Di akhir acara, terdapat pesan dari Kepala Sekolah Abidin, yang menyebutkan, meskipun yang menggunakan kurikulum merdeka baru kelas VII, secara substansi sama saja, baik itu sisi penilaian dan menulis RPP, yang berbeda hanya istilahnya saja. Pertemuan selanjutnya akan diadakan pada tanggal 13 dan 20 September 2022, dengan tema: “Metode Pembelajaran Proyek dan Praktek Membuat Instrumen Pembelajaran Proyek”. (*)


Wartawan: Dzikril Firmansyah

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here