Kampus

Kampus

MediaMU.COM

Jul 25, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Milad Pascasarjana UMY: Muhammadiyah Sangat Realistis

Foto: Ahimsa/mediamu.com

BANTUL – Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) genap berusia 24 tahun, Sabtu (20/8). Resepsi tasyakuran dimeriahkan dengan ceramah umum bertema “Muhammadiyah dan Dakwah Keilmuan di Kancal Global” oleh Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed.

Dimulai pukul 08.30 WIB, kegiatan ini dilaksanakan melalui teleconference dan dihadiri kurang lebih 135 peserta. Kata pengantar disampaikan Direktur Program Pascasarjana UMY, Ir. Sri Atmaja P. Rosyidi, M.Sc., Ph.D., P.Eng, IPM. Menurutnya, program ini memiliki 10 program studi, terdiri dari 7 program magister dan 3 program doktoral.

Kegiatan dilanjutkan sambutan dari Rektor UMY yakni Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM. Menurutnya, berbagai kemajuan yang dicapai Muhammadiyah di kancah internasional turut melibatkan peran UMY. Di antaranya, pengadaan KKN internasional, pendirian Islamic Studies di Taiwan, pendirian PCIM Jerman Raya, serta pengadaan beasiswa untuk mahasiswa asing.

Dalam kupasannya, Abdul Mu’ti mengatakan, “Bagaimana Muhammadiyah melakukan upaya lebih cepat dan lebih serius lagi dalam melakukan dakwah di kancah internasional.” Cita-cita ini tidaklah terlalu ‘ngoyoworo’ atau ambisius, melainkan sangat realistis karena Muhammadiyah telah membangun pondasi yang kuat.

Setidaknya ada lima hal yang bisa menjadi titik berangkat proses peningkatan Muhammadiyah dalam bidang pendidikan untuk mencapai cita-cita tersebut.

Pertama, adanya institutional channel. Ini bisa terwujud dengan dua bentuk yaitu pendirian lembaga di luar negeri (contohnya UMAM atau Universiti Muhammadiyah Malaysia yang baru saja berdiri) dan kemitraan dengan lembaga pendidikan di luar negeri.

Kedua, scholar and scholarship channel dimana Muhammadiyah mendorong dan memfasilitasi para akademisi untuk mengeksplorasi dan melakukan penelitian tentang Muhammadiyah. Karena sebetulnya banyak peneliti yang tertarik terhadap organisasi ini. Seperti contohnya Prof. Mitsuo Nakamura yang pernah menulis buku The Crescent Arises Over the Banyan Treen (Studi tentang Pergerakan Muhammadiyah di Kotagede sekitar 1910-2010).

Ketiga, joint publication. Salah satu cara untuk dapat termotivasi menulis adalah dengan adanya kemitraan. Ini dapat didukung salah satunya dengan mengurangi beban akademik seperti mengajar para dosen demi memberi waktu mereka untuk menulis dan melakukan penelitian. Di luar negeri, terdapat program semacam ini yang disebut sabbatical (cuti panjang). Pada waktu itu, mereka didorong untuk menghasilkan karya buku maupun jurnal.

Keempat adalah pengadaan Muhammadiyah chair di universitas-universitas luar negeri. Dulu sempat digagas dengan Victoria University agar dapat menyediakan studi untuk mahasiswa-mahasiswa yang ingin mempelajari tentang Islam dan Muhammadiyah, namun belum dilanjutkan. Ini bisa menjadi peluang untuk UMY.

Abdul Mu’ti mengatakan, perlu juga dibuka dukungan sponsor bagi peneliti yang ingin mengeksplor Muhammadiyah, termasuk kerelawanan dan gerakan filantropis yang sepertinya masih kurang dianalisis. Untuk semua peluang itu Muhammadiyah sudah memiliki modal yang cukup jika ingin menyeriusi. “Bagaimana kemudian tinggal kita percaya diri,” tuturnya.

Setelah acara selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada para dosen dan tenaga pendidikan berprestasi di UMY. Selain karena bertepatan dengan momen milad, penghargaan ini tujuannya untuk memberikan apresiasi kepada capaian para dosen serta memotivasi pengajar yang lain. Seusai itu, acara pun ditutup. (*)

Wartawan: Ahimsa
Editor: Heru Prasetya

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here